Bhrisco Jordy, Pahlawan Literasi untuk Anak-Anak di Pulau Mansinam

0
296
Bhrisco Jordy

Sebagian besar wilayah di Papua masuk termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Mulai dari Keerom, Merauke, Boven Digoel, Pegunungan Bintang bahkan Kota Jayapura. Di wilayah inilah akses buruk sehingga membuat berbagai sektor perlu dikembangkan khususnya pendidikan.

Seorang pemuda asal Manokwari, Papua Barat, Brhisco Jody Padatu sangat prihatin dengan kondisi pendidikan anak-anak di pulau Mansinam. Bukan hanya soal baca tulis, anak-anak di sana bahkan tidak bisa menuliskan namanya. Hal inilah yang membuat Brhisco termotivasi untuk meningkatkan literasi di daerah tersebut.

Karya Brhisco Jordy dalam Papua Future Project

Memulai perjalanannya untuk meningkatkan literasi bagi anak-anak di pulau Mansinam, Brhisco tidak menunggu uluran tangan dari pemerintah. Pada tahun 2020 Brhisco bersama dengan teman relawan lain mendirikan Papua Future Project (PFP).

Moto utama dari PFP adalah ‘Every Child Matters’, dan program yang diadakan ini fokus untuk menyediakan pendidikan dengan target jangka panjang bagi anak-anak. Bagi Brishco dengan adanya program ini maka langkahnya untuk memotivasi anak-anak yang hidup di perbatasan jangan pernah putus asa untuk bermimpi.

Literasi merupakan langkah awal untuk membuka jendela dunia untuk anak-anak yang tinggal di pulau Mansinam. Berkat pendidikan pula, kesenjangan signifikan antara anak-anak di kota dan di 3T jadi lebih rendah.

Selama menjalankan PFP ada beberapa hal yang telah dilakukan oleh Brishco dan teman-teman relawan seperti:

1. Menyediakan Pojok Baca

Buku-buku pengetahuan yang bisa dibaca oleh anak-anak telah dikumpulkan sehingga mereka pun bisa membaca kapan saja. Buku-buku seperti pengetahuan mengenai biota laut, lingkungan diajarkan secara rutin sehingga anak-anak bisa melek huruf.

Supaya bisa lebih mengerti, teknik pengajaran pun dilengkapi dengan latihan motorik yaitu menggambar. Menariknya lagi, anak-anak juga sudah mulai diajarkan untuk bisa mengoperasikan laptop. Kegiatan mengajar ini diadakan seminggu sekali.

Selain itu supaya pojok baca bisa terus berjalan dengan baik, Brhsico juga membuka donasi buku. Sehingga semakin banyak materi yang bisa dipelajari oleh anak-anak di Papua.

2. Mengadakan Trauma Center

Bukan hanya soal pendidikan, PFP juga menyediakan trauma center yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak. Jadi kebutuhan akan kesehatan anak pun dapat terpenuhi. Hal ini juga berdampak besar bagi pola pikir mereka di masa depan sekaligus meningkatkan motivasi.

3. Membuka Rekrutmen Sukarelawan

Demi program PFP terus berjalan, Bhrisco juga membuka rekrutmen sukarelawan. Siapa saja yang telah memiliki ilmu pendidikan dan tertarik menjadi sukarelawan seminggu sekali ke pulau Mansinam akan disambut dengan baik.

Sukarelawan akan mendapat pembekalan dan pelatihan mengenai konsep pembelajaran mengikuti kurikulum merdeka serta pendidikan holistik. Hingga saat ini telah ada 250 tenaga pengajar di PFP yang bekerja baik online dan offline.

Harapan Brhisco Jordy dalam PFP hingga 2025

Karya besar yang menjadikan Brhisco pahlawan literasi di pulau Mansinam ini tentunya tidak jalan di tempat. Cukup besar harapannya bahkan target hingga 2025 adalah PFP dapat menjangkau 100 kampung.

Demi bisa mewujudkannya, Brhsico pun memiliki cita-cita untuk menambah perahu untuk sarana transportasi untuk menjangkau lebih banyak daerah. Mengingat masing-masing kampung berada di pulau-pulau.

Sampai saat ini sudah 13 kampung yang menjadi tempat aktivitas PFP dan 700 anak sudah menikmati manfaatnya. Tentu saja jumlah ini masih jauh dari harapan yang menjadi target sampai 2025 nanti.

Berkat konsistensinya dalam PFP, Brhsico Jordy berhasil menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Awards ke-13 di tahun 2022 untuk kategori pendidikan. Ajang tahunan yang diadakan oleh PT Astra International Tbk. Dana yang diperolehnya tentu saja bisa langsung digunakan untuk mengembangkan kegiatan yang berlangsung di PFP.

Jasanya dalam mengembangkan literasi di pulau Mansinam patut untuk dihargai dan julukan pahlawan tentu saja sangat pantas ia terima. Berkat keberhasilannya sebagai penerima SATU Indonesia Awards, Brhsico dapat mendiskusikan pula kepada para ahli dan institusi mengenai konsep pembelajaran berkelanjutan yang dapat dilakukan.

Di tahun 2023 ini  SATU Indonesia Awards pun masih berlanjut dan dalam tahapan pemilihan. Siapakah yang akan menjadi penerima selanjutnya? Siapapun yang mendapatkannya sudah pasti layak untuk memajukan Indonesia.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini